Level 21


I count city lights like I count stars

I sit and I held in my hand a cigar

Cold night wind breeze through my hair

They know that I am in despair

I want to jump from level 21 to the ground

But in this world i was bound 

The cigarette butt kiss my lips

I know life subtract on every sips

I am an anchor without rope

I am a soul with no hope

You can’t pull me back once I fall

 I am a failure after all

– Jatinangor, June 9 2017 – 00.04 am

Beauty and The Beast – Sebuah Film Nostalgia dengan Pesan Titipan

Review dari seorang amatiran di dunia perfilman

Udah nonton Beauty and The Beast versi live action? Kalo belom, nonton, kalo udah, bagus.

Kata salah seorang teman yang habis ikut workshop film, sebagai seorang filmmaker, lo gak bisa liat film cuma sekadar “film”, lo dianjurkan buat mencoba melihat pesan apa sih yang ingin disampaikan, gimana sih cara menyampaikannya, apakah udah tepat sasaran, dan lain sebagainya. Jadi, yang awalnya gue cuma melihat film ini sebagai film nostalgia aja dan dibawa ringan tanpa perlu analisis ABCD, jadi ingin melihat film ini dengan analisis ABCD, baik teknis maupun non-teknis.

Buat gue sendiri secara keseluruhan filmnya bagus, cantik, musiknya bener-bener ciamik. Gue pun sebenernya agak kaget ketika nonton dan ternyata full musikal, a la LaLa Land. The casts are incredible. Storyline gak banyak berubah dari film animasi nya yang pertama kali ditayangin tahun 1971. Visual efek yang gak usah diragukan lagi, sudah membuat mataku seperti sedang berdisko. Sepanjang film ini gue banyak senyum from ear to ear, entah kenapa ya, gue juga bingung.

Ada beberapa hal yang jadi perhatian gue di film ini

1 Belle semudah itu jatuh cinta sama Beast

Yah, mungkin karena gak ada waktu, cuma buat gue pembangunan chemistry ini yang justru penting. Ketika bagaimana seharusnya Belle bisa melihat sisi terdalam dari Beast sambil mengatasi sisi kelam Beast yang emosian gak karuan (yang sayangnya juga kurang ditunjukkin, cuma galak di awal). Coba dibikin lebih sulit sedikit, lebih ditunjukkin apa sih yang menjadi daya tarik si Beast selain dia suka baca buku, kurang di explore. Ini bisa jadi dampak dari kurang character development Beast nya juga sih, karena kebaikan yang ditunjukkin dari Beast ya hanya suka baca buku, ternyata perhatian and that is it. Sementara keganasannya juga cuma keliatan diawal doang.

2 Background story yang gak perlu

Ya background story Ibu Belle buat gue gak perlu diceritain sedetail itu sih. Kenapa? Karena yang dibutuhkan adalah lebih banyak cerita tentang Belle dan Beast membangun hubungan mereka ketimbang peristiwa masa lalu Ibunya Belle yang mungkin bisa aja dijelasin dalam satu kalimat.

3 Ada selipan gender dan seksualitas

Film ini sedikit banyak juga membahas soal gender dan seksualitas. Gue bukannya gak setuju kalau mau promote tentang gender dan seksualitas, gak masalah, cuma buat gue ada beberapa yang sedikit dipaksakan. Contoh paling obvious adalah Le Fou, nah disini buat gue agak dipaksakan dia menjadi gay. Can you just be someone who adore and worship someone without being labelled as gay?  Tanpa Le Fou dijadiin gay, buat gue akan tetap sama, hanya beda di gestur badannya aja, secara kekaguman dan betapa dia menyembah Gaston, menurut gue harusnya tidak berubah dan masih masuk akal. Nah terus ada juga sih selipan soal feminisme di film ini, dimana si Belle menolak jadi istri Gaston yang cuma diem-diem doang dan hanya di label “istri Gaston”, Belle mau menjadi apapun yang dia mau tanpa dibatasi oleh Gaston. There you go kids, a first lesson in feminism, you can be and you should be whatever you want. If someone like Gaston showed up, find a beast to knock him or simply just kick him right in the balls.

4 Emma Watson auto-tune

Pertama-tama gue mau menjelekkan Beauty and The Beast versi Ariana dan John. Maaf saya benci lagunya (satu-satunya lagu yang gak gue saved di spotify) kayak karaokean aja itu mah.

Oke, dan kalo lo denger baik-baik pas lagu Belle akan kedengeran Emma Watson banyak auto-tune nya ternyata (ketara banget kok kalo pake headset). Ini minor banget sih, dan lo gak bisa berharap apa-apa dari Emma Watson yang notabene emang bukan penyanyi profesional, penyanyi profesional aja bisa mengecewakan *uhuk*ariana&john*uhuk*. On the other hand, i was quite surprised with Dan Stevens’ song, Evermore. IT SO GOOD IM DEAD. walau pake efek suara beast, tapi somehow i can feel / hear Dan’s own voice.

Yah secara keseluruhan dan kalau emang mau di bawa santai aja nontonnya, ini film bagus buat ajak anak, adik, saudara-saudara yang masih cimit. Tapi ada beberapa penyampaian pesan yang kurang kuat dan penambahan isu yang menurut gue terkesan dipaksakan dan menjadikan film ini sebuah film nostalgia dengan pesan titipan. Kalau mau digambarin lo lagi mau ke sekolah tapi ibu lo nitip belanja di pasar burung karena kebetulan searah tapi jadi menghambat dan jadi beban pikiran. Tapi, bukan berarti pesan titipan itu membuat film ini jadi jelek, film ini tetap bagus.

At first i was giving this movie 4/5 out of excitement abis nonton, tapi sekarang gue kasih nilai 3/5. Tetap masih punya alasan buat nonton ini, dan gue mau kok kalo diajak nonton ini lagi (asal dibayarin).

2017 is going to be my year!

Udah tahun 2017 aja.

Entah kenapa, kalau mau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, gue merasa 2017 akan menjadi “tahunnya gue”. Don’t know why, just I have that kind of feeling. Salah satu tandanya adalah gue tidak se-gloomy biasanya. I kind of can see things clearly, in the positive way, i can see the silver linings in all events. So i welcoming 2017 with an open arms. Marah-marah sih masih ada, namanya manusia, tapi udah berkurang asli deh gak bohong. 2016 taught me a lot about accepting things. Biggest one i had to swallow was my Dad’s marriage back in October, I can’t say much. My mom and dad divorce really broke me tho’, never fully healed but, yea, who can really be fully healed anyway? I just went over it.

2017, gue mau menjadi orang yang lebih positif dan optimis aja sih, gak muluk, karena gue punya sebuah pemikiran kalau semua kita udah jalankan dengan maksimal tapi kalau gak punya faith, ya sama aja, even the slightest light of hope will conquer the darkest night. Banyak hal yang gue kejar di 2017 karena ini tahun terpositif gue setelah bertahun-tahun hidup dalam kepesimisan. Dan Puji Tuhan, ambisi dan kepositifan gue membuahkan hasil pertama di 2017, gue dan khansaa berhasil bawa pulang piala Best Cultural Content dari Bharatika Creative Design Festival di Surabaya. It may not look like much, but it means a lot for me personally, it was a proof, that i actually can do it and that 2017 is going to be a good damn year!

Ya bukan mau jumawa (am i saying that right?) cuma gue memang harus diyakinkan kalo 2017 ini akan baik-baik aja, dengan polemik keluarga, polemik kampus, dan polemik pribadi gue yang entah kapan selesainya. I’m not a complicated person, i swear, my life that is awfully complicated. Gue sampai membuat sebuah jargon “2017 ini tahun gue!” dan gue ulang-ulang setiap kali mau mengerjakan sesuatu sebagai penyemangat gue dan harapan gue sih sebenarnya.

Semoga tahun ini beneran jadi tahun yang baik, well, I’m not expecting everything will go smoothly the whole year (gak mungkin lah, universe has its own way to bring you down in the most unexpected time).

Kotak Abu-Abu

Kotak itu didekap erat didepan dadanya. Tak boleh ada yang menyentuhnya selain dirinya. Kotak itu berbentuk persegi sama sisi, berwarna abu-abu pekat tanpa ada ornamen-ornamen lain. Ia tak berani membuka kotak itu, menunjukkan isinya pada orang lain. Karena sesungguhnya, ia tidak tahu, apakah isi kotak itu baik atau buruk.

Orang-orang sekitar mulai curiga melihat dia memegang kotak itu begitu erat di dadanya, mereka ingin tahu apa yang ada didalamnya, apa yang disembunyikan, manusia, merasa mereka harus tahu segalanya. Merasa tidak aman, ia berlari jauh ke dalam hutan yang ada dibelakangnya. Beberapa ada yang berusaha mengikuti, cerdik, ia bersembunyi dibalik batang-batang pohon besar, meninggalkan jejak-jejak palsu, dan kemudian menghilang. Ia mengintip isi kotak tersebut. Pikirannya berkecamuk, ingin rasanya ia melepas genggamannya dari kotak itu. Berat. Tangan-tangannya tidak bisa bebas melakukan sesuatu. Tapi, tidak mungkin, dirinya sendiri bahkan tidak dapat menentukan apakah isi kotak itu baik atau buruk.

Ia keluar dari hutan, berbaur dengan orang-orang lain, berusaha mencari orang dengan gerak gerik yang sama dengannya, yang membawa kotak abu-abu pekat, polos tanpa ornamen apapun. Sulit menemukannya.

Ia kembali berlari kedalam hutan, mencari tempat paling terasingkan. Ia menggali lubang yang dalam, sangat dalam. Sampai ia tahu dengan pasti apa nilai dari isi kotak itu, ia akan menyimpan kotak itu dalam-dalam. Menutup lubang itu kembali, membuatnya seakan-akan tidak pernah digali.

Hingga akhirnya ia tahu nilai dari isi kotak tersebut, maka ia tidak akan membuka lubang itu. Ia keluar dari hutan, berbaur, sambil berusaha melupakan kotak dan isinya itu.

Panggung Musikal

Di tengah ruangan itu terdapat sebuah panggung dengan bentuk persegi. Panggung itu dihiasi oleh cahaya-cahaya terang dan berwarna-warni dari lampu-lampu sorot.

Diatas panggung itu, ada mereka, manusia-manusia berbagai gender, tanpa busana, menari-nari penuh gairah. Kulit mereka yang terpampang jelas itu berkilat-kilat karena pantulan cahaya lampu sorot. Nafas mereka menderu, tubuh mereka saling bergesekan. Musik elektronik yang dimainkan semakin menambah semangat mereka. Mereka terus menari seakan tak bisa berhenti. Candu.

Dibawah panggung itu, banyak juga manusia, ikut menari. Di deretan paling depan, ada mereka yang ikut menari dengan semangat dan gairah yang sama, tapi tidak tanpa busana, mereka berbusana, hanya sangat minim, cukup untuk menutupi kelamin mereka saja.

Dibelakang kerumunan itu, masih ada kumpulan manusia-manusia lainnya. Semakin kebelakang, semakin berkurang semangat dan gairahnya, dan semakin banyak pula pakaian yang dikenakan, tetapi, semakin sedikit jumlahnya.

Di sudut ruangan itu, terdapat panggung lingkarang yang kecil dan lampu kecil berwarna kuning yang menyorot dari atas sedikit remang tapi terkesan romantic. Panggung itu hanya cukup untuk 3 orang saja dan alat musik klasik mereka. Piano, Biola, dan Saxophone. Alunan musik klasik yang indah dan merdu, besar suaranya memang tidak sebanding dengan musik elektronik dan manusia-manusia yang menikmatinya di tengah ruangan, hanya saja, mereka bermain dengan khusyuk.

Dibawahnya terdapat manusia-manusia juga, mengelilingi panggung itu. Duduk dengan manis, mereka tampak memejamkan mata, tanda mereka menikmati. Manusianya memang tidak banyak, tapi mereka merasakan hati, perasaan dari para pemain musik diatas panggung.

Di ruangan itu, terdapat 2 panggung, 2 musik, dan 2 khalayak. Manusia-manusia yang masuk ke ruangan tersebut bebas memilih ingin ikut yang mana.

Aku sendiri memilih panggung kecil yang ada di ujung ruangan, ikut menikmati hati dan perasaan dari pemusik.

Pikiran sendiri(an)

Duduk di sebuah toko donat yang ingin juga dibilang “coffee shop“. Sendiri saja, sedang butuh ketenangan katanya. Kedua telinganya ditutupi alat pendengar lagu, tanda ia berusaha untuk tidak diganggu. Matanya terpaku ke layar kaca di depannya, jari-jari bergerak lincah pada tombol-tombol berwarna hitam, sekali-kali berhenti untuk mencari inspirasi.

Lagu akustik mengalun di telinganya, ingin rasanya ia ikut menyenandungkan kata-kata dalam lagu tersebut, hanya saja tak mungkin ia tiba-tiba menyanyi di tempat umum seperti ini, antara tidak percaya diri dan takut dianggap orang gila yang gagal menjadi penyanyi. Akhirnya ia hanya menggerakkan kepalanya seirama dengan lagu. Tiba-tiba lagunya berganti, masih ingin mendengarkan ia menekan tombol backward dan mengulang lagu tadi. Sesungguhnya perasaan nostalgia terhadap suatu momen yang dirasakan ketika mendengar lagu tersebut yang ingin dia ulang. Ia berhenti sejenak dari segala kegiatannya, menyenderkan badannya kebelakang dan menutup mata. Menikmati momen.

Merasakan momen-momen memang paling nikmat, walau ada juga momen dengan perasaan kurang menyenangkan, tapi ketahuilah, itu tetap nikmat. Memang belum ada mesin yang dapat menembus ruang dan waktu, tapi pikiran dan perasaan, otak dan hati manusia adalah mesin waktu alami. Dengan melihat sebuah gambar, bisa ingat momen yang pernah dilewati pada saat gambar itu dibuat. Dengan mendengar sebuah lagu, bisa merasakan kembali perasaan waktu sering mendengar lagu itu. Atau mencium sebuah aroma, bisa bikin rindu pada suatu tempat, seseorang, sebuah momen, sebuah perasaan. Ya, manusia sebenarnya bisa menembus waktu, cuma mereka ingin yang lebih saja.

Cangkir kopi diatas meja diangkat dan diminumnya, setelahnya muka kecut dikeluarkannya. “Bukan fans kopi” katanya, cuma karena asas butuh aja, jadi pura-pura suka, sama kayak teman-teman masa kini.

Kini pekerjaanya sudah selesai. Cukup puas dengan hasilnya. Namun, sekarang ia kebingungan harus melakukan apa. Alhasil jadilah ia hanya duduk melamun, masih sembari mendengarkan musik.

Ia ingin pulang, hanya ia merasa sayang uang 40 ribu yang ia keluarkan untuk mendapatkan jaringan internet, 2 piece donat dan secangkir kopi terbuang sia-sia. “Ah terjebak dalam pembelian yang berdasarkan keputusan impulsif.” Ia merasa bodoh membuang uang 40 ribu yang harusnya bisa untuk makan nasi 3 kali udah lengkap sama lauk dan minum. Apakah ini namanya kapitalisme? Mengerti apa ia soal kapitalisme? Mendadak ia merasa semakin bodoh, kurang literasi, kurang pengetahuan. Ia menegak cangkir kopinya lagi. Pahit.

Ternyata di luar sana hujan. Ingin sekali-kali main hujan. Tapi lagi-lagi terhalang ketakutan. Takut sakit dan takut dianggap orang gila. “Kenapa sih, orang mau melakukan apa yang ia senangi sering dianggap orang gila?” tanyanya, yang kemudian ia jawab sendiri; mungkin karena batasan waktu dan tempat ya. Waktu; siang bolong, orang-orang sedang fokus mengerjakan tugas, tempat; toko donat yang katanya coffee shop yang letaknya ada di dalam sebuah tempat perbelanjaan. Waktu; udah umur 20 tahun, udah bukan remaja apalagi anak kecil, bukan waktunya lagi main hujan., tempat; tengah-tengah jalan raya.

Eh iya, ternyata masih ada tugas lain, ia kembali fokus ke layar kacanya.