Tahapan dalam kehidupan

Wajah yang lelah menceritakan hari

Setiap kerutan adalah tanda semangat

Tak sabar bertemu keluarga yang menanti

Atau mungkin hanya kasur yang bersahabat

Menjadi dewasa adalah sebuah perjuangan

Bukan berarti tahap lain adalah permainan

Hanya saja lebih banyak tantangan

Walau inginnya terus saja merasa nyaman

Terkadang tak sabar menyongsong hari esok

Tapi tidak jarang ingin mengunjugi kemarin

Hari ini berharap agar tidak jatuh terperosok

Tidak lupa berdoa dan berkata Amin.

Advertisements

Skripsi and how I handle it (so far)

It has been (and still is) a bumpy and roller coaster kind of ride.

and I stumbled.

Sempat merasakan mental breakdown a couple time because i was comparing progress teman-teman gue dengan progress gue sendiri. The breakdown happened for at least a week. It was kind of ironic karena gue sempat menggembar-gemborkan “we have our own time” yang ternyata gak bisa gue percayai sendiri.

In those mental breakdown state, I was a mess. I was so messed up, I didn’t talk to my friends, I locked myself in my bedroom, and was crying and contemplating my life, what have i done in my 21 years of life compared to my friends, why i act so tough while in reality i was so weak and very dependent of others. Some of my friends did tried to cheer me up but i refused to be cheered on, I really wanted to be left alone. All and all it was a rough week.

How I handled it?

I stopped worrying.

Mencoba berpikir lagi dengan akal sehat gue. Menjauh dari teman-teman mungkin bagian dari mental breakdown, tapi itu mungkin sebenarnya yang gue butuhkan. Gue butuh sendiri, berpikir sendiri. It kinda I was healing on my own.

And I prayed, well to be specific, I asked God, why? God speaks in His way, my Mom called and speak to me.

So I tried to get back up.

Gue harus mencoba berhenti membandingkan diri gue dengan orang lain. Gue berhenti bertanya gimana progress teman-teman gue, gue mulai kerjain sendiri, dan menghindari kerjain skripsi bareng-bareng.

Kalau mau tahu, saat nulis ini, skripsi gue baru mau masuk BAB 2 (BAB 1 bahkan belum di acc) dan gue mungkin akan mengalami jatuh bangun lagi, tapi gue percaya gue akan berhasil manage diri gue lagi dan menyelesaikan skripsi ini.

Setiap orang mungkin akan punya cara yang berbeda dalam menghadapi skripsinya, tapi mungkin yang sama adalah, We have to believe in ourself!

Malas melangkah

dua ribu tujuh belas.

Terima kasih, untuk semua kesenangan, untuk semua senyum dan tawa yang dapat ditunjukkan, karena sesungguhnya berat untuk mengangkat kedua sudut bibir ini. Sepantasnya juga gue ucapkan terima kasih, untuk semua emosi yang naik turun, problematika keluarga dan studi yang menggerogoti pikiran.

Semacam recap :

  1. KKN adalah sebuah perjuangan.
  2. Menikmati setiap kelas Kualitatif dan Perkembangan Industri Media.
  3. Mendapatkan nilai tertinggi seumur hidup kuliah.
  4. Menjadi kakak pendamping yang tidak pantas dijadikan panutan.
  5. Merasakan mencari pekerjaan dan bekerja.
  6. Bekerja itu melelahkan.
  7. Merendahkan diri terjadi terlalu sering tahun ini.
  8. Ternyata memang sulit bekerja tanpa deadline
  9. Masih sering berpura-pura dihadapan orang lain.
  10. Keluarga itu, rumit.
  11. Semakin sering merendahkan diri di akhir tahun.
  12. Bangun-Makan-Nonton Film-Makan-Tidur di Jogja adalah semacam life goals
  13. Sadar, antara tidak punya tujuan hidup atau memang terlalu mengada-ada
  14. Ditutup dengan pahit di hati.

Ibarat sebuah rangkaian makanan, 31 Desember adalah makanan penutup terburuk, sialnya, gue masih belum meledak. Entah, sepertinya bendungan emosi gue besar banget.

dua ribu delapan belas.

Gue gak bikin resolusi tahun ini. Semacam ketakutan akan komitmen yang akan terlupakan. Tujuan tahun ini cuma satu, lulus kuliah dan cari kerja. Mimpi-mimpi lainnya dikubur dalam-dalam aja, karena mungkin gak bisa terlaksana juga. Kalau tahun lalu  gue memulai dengan optimis, tahun ini, gue mulai dengan gak bikin ekspektasi sama sekali, yang baik biarlah jadi baik, yang buruk biarlah jadi buruk. Memang bukan awal yang baik sih, tapi berharap itu melelahkan. Rendah diri akan sering terjadi tahun ini, mengingat skripsi udah dimulai.

Intinya sih, gue malas melangkah tahun ini dan berusaha menikmati hidup aja gak sih?

Jakarta hari ini terasa seperti Natal

Pagi ini aku terbangun dari tidurku lebih siang dari biasanya. Tetapi, dengan mata yang masih berat aku merasakan kamarku masih gelap. Sangat tidak umum di Jakarta yang terik mataharinya terasa menantang emosimu sampai ke ubun-ubun. Ku tengok jendela yang ternyata sudah basah dengan rintik-rintik hujan.

Aku senang dengan cuaca hujan Jakarta di pagi hari. Dinginnya membuatku merasa nyaman. Cuaca ini mengingatkan akan masa-masa SMA, berangkat sekolah dengan jaket tebal, menembus dinginnya jalanan Jakarta. Dan entah kenapa aku merasakan getaran-getaran Natal. Sejak pagi sudah kuputar lagu “Have yourself a Merry Little Christmas” dan menyanyikannya sepanjang perjalanan. Terasa sempurna.

Walaupun aku suka hujan, tak mungkin aku datang ke kantor dalam keadaan yang kuyup, jadi kupacu sepeda motorku. Aku sedang bermain kejar-kejaran dengan awan mendung. Setiap ada rintikan-rintikan hujan yang mengenai badanku, aku bersyukur dan kemudian kembali mempercepat laju sepeda motorku agar menjauh dari gerimis.

Suasana di kantor juga terasa nyaman dengan cahaya remang-remang. Rasanya ingin menghabiskan waktu di kamar, membungkus seluruh tubuh dengan selimut dan memperhatikan rintik hujan yang menabrak kaca jendela. Sampai sore, kenyamanan itupun belum hilang, masih kuputar lagu “Have yourself a Merry Little Christmas”. Jadi tidak sabar menanti datangnya Natal.

Tapi, terkadang ingin sekali merasakan Natal yang sepi, menjauh dari keramaian kota, bahkan keluarga. Aku ingin merasakan Natal yang sederhana, bahkan Yesus pun lahir hanya di dalam kandang domba di kota kecil Bethlehem yang jauh dari keramaian kota besar Yerusalem. Jujur saja, seumur hidupku rasanya tak pernah aku benar-benar mendalami makna Natal. Sebagai seorang penganut agama kristen, aku merasa aneh ketika tidak bisa mengerti arti Natal sesungguhnya. Yang aku tahu, Natal adalah sebuah hari raya besar bagi orang yang percaya pada Yesus Kristus. Mungkin disitulah letak kesalahannya, aku sudah memaknai Natal sebagai hari yang harus dilaksanakan meriah dengan segala kemewahan. Makna Natal (setidaknya bagiku saat ini) yang seharusnya adalah kasih karunia Allah yang terbesarpun bahkan hadir dalam bentuk paling sederhana dan dengan lingkungan yang sangat, sangat sederhana menjadi hilang dan tertutup oleh cahaya-cahaya gemerlap dunia dan perayaan serta hadiah-hadiahnya.

Jakarta hari ini membuatku membayangkan akan Natal impianku. Bangun di pagi hari, dengan cuaca seperti Jakarta pagi ini, pergi ke gereja yang kecil dan tidak terlalu ramai, kemudian pulang dan menikmati masakan rumahan bersama dengan keluarga kecil tanpa perayaan berlebihan, kemudian menikmati sore dengan secangkir teh, menikmati cuaca dingin dan sambil berkontemplasi dan menunggu malam dalam kesederhanaan dan mengakhiri hari dengan berdoa.

Jika Jakarta besok masih terasa seperti ini, maka kuucapkan, Selamat menikmati Natal lebih cepat! 🙂 (paling tidak untukku)

 

Level 21


I count city lights like I count stars

I sit and I held in my hand a cigar

Cold night wind breeze through my hair

They know that I am in despair

I want to jump from level 21 to the ground

But in this world i was bound

The cigarette butt kiss my lips

I know life subtract on every sips

I am an anchor without rope

I am a soul with no hope

You can’t pull me back once I fall

I am a failure after all

– Jatinangor, June 9 2017 – 00.04 am