Jakarta hari ini terasa seperti Natal

Pagi ini aku terbangun dari tidurku lebih siang dari biasanya. Tetapi, dengan mata yang masih berat aku merasakan kamarku masih gelap. Sangat tidak umum di Jakarta yang terik mataharinya terasa menantang emosimu sampai ke ubun-ubun. Ku tengok jendela yang ternyata sudah basah dengan rintik-rintik hujan.

Aku senang dengan cuaca hujan Jakarta di pagi hari. Dinginnya membuatku merasa nyaman. Cuaca ini mengingatkan akan masa-masa SMA, berangkat sekolah dengan jaket tebal, menembus dinginnya jalanan Jakarta. Dan entah kenapa aku merasakan getaran-getaran Natal. Sejak pagi sudah kuputar lagu “Have yourself a Merry Little Christmas” dan menyanyikannya sepanjang perjalanan. Terasa sempurna.

Walaupun aku suka hujan, tak mungkin aku datang ke kantor dalam keadaan yang kuyup, jadi kupacu sepeda motorku. Aku sedang bermain kejar-kejaran dengan awan mendung. Setiap ada rintikan-rintikan hujan yang mengenai badanku, aku bersyukur dan kemudian kembali mempercepat laju sepeda motorku agar menjauh dari gerimis.

Suasana di kantor juga terasa nyaman dengan cahaya remang-remang. Rasanya ingin menghabiskan waktu di kamar, membungkus seluruh tubuh dengan selimut dan memperhatikan rintik hujan yang menabrak kaca jendela. Sampai sore, kenyamanan itupun belum hilang, masih kuputar lagu “Have yourself a Merry Little Christmas”. Jadi tidak sabar menanti datangnya Natal.

Tapi, terkadang ingin sekali merasakan Natal yang sepi, menjauh dari keramaian kota, bahkan keluarga. Aku ingin merasakan Natal yang sederhana, bahkan Yesus pun lahir hanya di dalam kandang domba di kota kecil Bethlehem yang jauh dari keramaian kota besar Yerusalem. Jujur saja, seumur hidupku rasanya tak pernah aku benar-benar mendalami makna Natal. Sebagai seorang penganut agama kristen, aku merasa aneh ketika tidak bisa mengerti arti Natal sesungguhnya. Yang aku tahu, Natal adalah sebuah hari raya besar bagi orang yang percaya pada Yesus Kristus. Mungkin disitulah letak kesalahannya, aku sudah memaknai Natal sebagai hari yang harus dilaksanakan meriah dengan segala kemewahan. Makna Natal (setidaknya bagiku saat ini) yang seharusnya adalah kasih karunia Allah yang terbesarpun bahkan hadir dalam bentuk paling sederhana dan dengan lingkungan yang sangat, sangat sederhana menjadi hilang dan tertutup oleh cahaya-cahaya gemerlap dunia dan perayaan serta hadiah-hadiahnya.

Jakarta hari ini membuatku membayangkan akan Natal impianku. Bangun di pagi hari, dengan cuaca seperti Jakarta pagi ini, pergi ke gereja yang kecil dan tidak terlalu ramai, kemudian pulang dan menikmati masakan rumahan bersama dengan keluarga kecil tanpa perayaan berlebihan, kemudian menikmati sore dengan secangkir teh, menikmati cuaca dingin dan sambil berkontemplasi dan menunggu malam dalam kesederhanaan dan mengakhiri hari dengan berdoa.

Jika Jakarta besok masih terasa seperti ini, maka kuucapkan, Selamat menikmati Natal lebih cepat! ūüôā (paling tidak untukku)

 

Advertisements

Level 21


I count city lights like I count stars

I sit and I held in my hand a cigar

Cold night wind breeze through my hair

They know that I am in despair

I want to jump from level 21 to the ground

But in this world i was bound

The cigarette butt kiss my lips

I know life subtract on every sips

I am an anchor without rope

I am a soul with no hope

You can’t pull me back once I fall

I am a failure after all

– Jatinangor, June 9 2017 – 00.04 am

Beauty and The Beast – Sebuah Film Nostalgia dengan Pesan Titipan

Review dari seorang amatiran di dunia perfilman

Udah nonton Beauty and The Beast versi live action? Kalo belom, nonton, kalo udah, bagus.

Kata salah seorang teman yang habis ikut workshop film, sebagai seorang filmmaker, lo gak bisa liat film cuma sekadar “film”, lo dianjurkan buat mencoba melihat pesan apa sih yang ingin disampaikan, gimana sih cara menyampaikannya, apakah udah tepat sasaran, dan lain sebagainya. Jadi, yang awalnya gue cuma melihat film ini sebagai film nostalgia aja dan dibawa ringan tanpa perlu analisis ABCD, jadi ingin melihat film ini dengan analisis ABCD, baik teknis maupun non-teknis.

Buat gue sendiri secara keseluruhan filmnya bagus, cantik, musiknya bener-bener ciamik. Gue pun sebenernya agak kaget ketika nonton dan ternyata full musikal, a la LaLa Land. The casts are incredible. Storyline gak banyak berubah dari film animasi nya yang pertama kali ditayangin tahun 1971. Visual efek yang gak usah diragukan lagi, sudah membuat mataku seperti sedang berdisko. Sepanjang film ini gue banyak senyum from ear to ear, entah kenapa ya, gue juga bingung.

Ada beberapa hal yang jadi perhatian gue di film ini

1 Belle semudah itu jatuh cinta sama Beast

Yah, mungkin karena gak ada waktu, cuma buat gue pembangunan chemistry ini yang justru penting. Ketika bagaimana seharusnya Belle bisa melihat sisi terdalam dari Beast sambil mengatasi sisi kelam Beast yang emosian gak karuan (yang sayangnya juga kurang ditunjukkin, cuma galak di awal). Coba dibikin lebih sulit sedikit, lebih ditunjukkin apa sih yang menjadi daya tarik si Beast selain dia suka baca buku, kurang di explore. Ini bisa jadi dampak dari kurang character development Beast nya juga sih, karena kebaikan yang ditunjukkin dari Beast ya hanya suka baca buku, ternyata perhatian and that is it. Sementara keganasannya juga cuma keliatan diawal doang.

2 Background story yang gak perlu

Ya background story Ibu Belle buat gue gak perlu diceritain sedetail itu sih. Kenapa? Karena yang dibutuhkan adalah lebih banyak cerita tentang Belle dan Beast membangun hubungan mereka ketimbang peristiwa masa lalu Ibunya Belle yang mungkin bisa aja dijelasin dalam satu kalimat.

3 Ada selipan gender dan seksualitas

Film ini sedikit banyak juga membahas soal gender dan seksualitas. Gue bukannya gak setuju kalau mau promote tentang gender dan seksualitas, gak masalah, cuma buat gue ada beberapa yang sedikit dipaksakan. Contoh paling obvious adalah Le Fou, nah disini buat gue agak dipaksakan dia menjadi gay. Can you just be¬†someone who adore and worship someone without being labelled as gay? ¬†Tanpa Le Fou dijadiin gay, buat gue akan tetap sama, hanya beda di gestur badannya aja, secara kekaguman dan betapa dia menyembah Gaston, menurut gue harusnya tidak berubah dan masih masuk akal. Nah terus ada juga sih selipan soal feminisme di film ini, dimana si Belle menolak jadi istri Gaston yang cuma diem-diem doang dan hanya di label “istri Gaston”, Belle mau menjadi apapun yang dia mau tanpa dibatasi oleh Gaston.¬†There you go kids, a first lesson in feminism, you can be and you should be whatever you want. If someone like Gaston showed up, find a beast to knock him or simply just kick him right in the balls.

4 Emma Watson auto-tune

Pertama-tama gue mau menjelekkan Beauty and The Beast versi Ariana dan John. Maaf saya benci lagunya (satu-satunya lagu yang gak gue saved di spotify) kayak karaokean aja itu mah.

Oke, dan kalo lo denger baik-baik pas lagu Belle akan kedengeran Emma Watson banyak auto-tune nya ternyata (ketara banget kok kalo pake headset). Ini minor banget sih, dan lo gak bisa berharap apa-apa dari Emma Watson yang notabene emang bukan penyanyi profesional, penyanyi profesional aja bisa mengecewakan *uhuk*ariana&john*uhuk*. On the other hand, i was quite surprised with Dan Stevens’ song, Evermore. IT SO GOOD IM DEAD. walau pake efek suara beast, tapi somehow i can feel / hear Dan’s own voice.

Yah secara keseluruhan dan kalau emang mau di bawa santai aja nontonnya, ini film bagus buat ajak anak, adik, saudara-saudara yang masih cimit. Tapi ada beberapa penyampaian pesan yang kurang kuat dan penambahan isu yang menurut gue terkesan dipaksakan dan menjadikan film ini sebuah film nostalgia dengan pesan titipan. Kalau mau digambarin lo lagi mau ke sekolah tapi ibu lo nitip belanja di pasar burung karena kebetulan searah tapi jadi menghambat dan jadi beban pikiran. Tapi, bukan berarti pesan titipan itu membuat film ini jadi jelek, film ini tetap bagus.

At first i was giving this movie 4/5 out of excitement abis nonton, tapi sekarang gue kasih nilai 3/5. Tetap masih punya alasan buat nonton ini, dan gue mau kok kalo diajak nonton ini lagi (asal dibayarin).

2017 is going to be my year!

Udah tahun 2017 aja.

Entah kenapa, kalau mau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, gue merasa 2017 akan menjadi “tahunnya gue”. Don’t know why, just I have that kind of feeling. Salah satu tandanya adalah gue tidak se-gloomy biasanya. I kind of can see things clearly, in the positive way, i can see the silver linings in all events. So i welcoming 2017 with an open arms. Marah-marah sih masih ada, namanya manusia, tapi udah berkurang asli deh gak bohong. 2016 taught me a lot about accepting things. Biggest one i had to swallow was my Dad’s marriage back in October, I can’t say much. My mom and dad divorce really broke me tho’, never fully healed but, yea, who can really be fully healed anyway? I just went over it.

2017, gue mau menjadi orang yang lebih positif dan optimis aja sih, gak muluk, karena gue punya sebuah pemikiran kalau semua kita udah jalankan dengan maksimal tapi kalau gak punya faith, ya sama aja, even the slightest light of hope will conquer the darkest night. Banyak hal yang gue kejar di 2017 karena ini tahun terpositif gue setelah bertahun-tahun hidup dalam kepesimisan. Dan Puji Tuhan, ambisi dan kepositifan gue membuahkan hasil pertama di 2017, gue dan khansaa berhasil bawa pulang piala Best Cultural Content dari Bharatika Creative Design Festival di Surabaya. It may not look like much, but it means a lot for me personally, it was a proof, that i actually can do it and that 2017 is going to be a good damn year!

Ya bukan mau jumawa (am i saying that right?) cuma gue memang harus diyakinkan kalo 2017 ini akan baik-baik aja, dengan polemik keluarga, polemik kampus, dan polemik pribadi gue yang entah kapan selesainya. I’m not a complicated person, i swear, my life that is awfully complicated. Gue sampai membuat sebuah jargon “2017 ini tahun gue!” dan gue ulang-ulang setiap kali mau mengerjakan sesuatu sebagai penyemangat gue dan harapan gue sih sebenarnya.

Semoga tahun ini beneran jadi tahun yang baik, well, I’m not expecting everything will go smoothly the whole year (gak mungkin lah, universe has its own way to bring you down in the most unexpected time).

Kotak Abu-Abu

Kotak itu didekap erat didepan dadanya. Tak boleh ada yang menyentuhnya selain dirinya. Kotak itu berbentuk persegi sama sisi, berwarna abu-abu pekat tanpa ada ornamen-ornamen lain. Ia tak berani membuka kotak itu, menunjukkan isinya pada orang lain. Karena sesungguhnya, ia tidak tahu, apakah isi kotak itu baik atau buruk.

Orang-orang sekitar mulai curiga melihat dia memegang kotak itu begitu erat di dadanya, mereka ingin tahu apa yang ada didalamnya, apa yang disembunyikan, manusia, merasa mereka harus tahu segalanya. Merasa tidak aman, ia berlari jauh ke dalam hutan yang ada dibelakangnya. Beberapa ada yang berusaha mengikuti, cerdik, ia bersembunyi dibalik batang-batang pohon besar, meninggalkan jejak-jejak palsu, dan kemudian menghilang. Ia mengintip isi kotak tersebut. Pikirannya berkecamuk, ingin rasanya ia melepas genggamannya dari kotak itu. Berat. Tangan-tangannya tidak bisa bebas melakukan sesuatu. Tapi, tidak mungkin, dirinya sendiri bahkan tidak dapat menentukan apakah isi kotak itu baik atau buruk.

Ia keluar dari hutan, berbaur dengan orang-orang lain, berusaha mencari orang dengan gerak gerik yang sama dengannya, yang membawa kotak abu-abu pekat, polos tanpa ornamen apapun. Sulit menemukannya.

Ia kembali berlari kedalam hutan, mencari tempat paling terasingkan. Ia menggali lubang yang dalam, sangat dalam. Sampai ia tahu dengan pasti apa nilai dari isi kotak itu, ia akan menyimpan kotak itu dalam-dalam. Menutup lubang itu kembali, membuatnya seakan-akan tidak pernah digali.

Hingga akhirnya ia tahu nilai dari isi kotak tersebut, maka ia tidak akan membuka lubang itu. Ia keluar dari hutan, berbaur, sambil berusaha melupakan kotak dan isinya itu.